MUI Banjarmasin Dorong Pengembangan Seni Budaya Islam untuk Perkuat Identitas dan Pariwisata Daerah

 

Banjarmasin – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, memberikan perhatian terhadap pengembangan seni budaya Islam sebagai upaya menjaga kelestarian budaya sekaligus mendukung sektor pariwisata daerah.

Hal tersebut dibahas dalam Forum Group Discussion (FGD) bertema strategi pengembangan seni budaya Islam yang digelar Komisi Pembinaan Seni Budaya Islam MUI Kota Banjarmasin di Rumah Anno 1925, kawasan Siring Piare Tendean Banjarmasin, Minggu (9/8).

Sekretaris MUI Kota Banjarmasin, H Muhlidi Sulaiman, mengatakan FGD tersebut digelar dengan melibatkan sejumlah unsur masyarakat dan pemerhati seni budaya Islam di Banjarmasin.

“Kita gelar Forum Group Discussion (FGD) tentang strategi pengembangan seni budaya Islam ini,” ujar Muhlidi.

Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni mantan Wali Kota Banjarmasin H Ibnu Sina dan penggiat seni budaya Madihin Kalimantan Selatan, Ahmad Sya’rani.

Menurut Muhlidi, Banjarmasin memiliki beragam kesenian bernuansa Islami yang menjadi bagian dari kekayaan budaya daerah. Di antaranya seni Hadrah, Kasidah, Kaligrafi Banjar, Madihin, serta berbagai kesenian lainnya.

“Daerah kita juga banyak memiliki lagu daerah. Ini harus diangkat kembali,” katanya.

Ia menegaskan, MUI Banjarmasin memandang penting untuk turut memberikan perhatian terhadap keberadaan dan keberlanjutan seni budaya daerah, khususnya yang memiliki nuansa Islami.

Seni budaya tersebut, menurutnya, tidak hanya menjadi warisan yang perlu dilestarikan, tetapi juga merupakan bagian dari identitas masyarakat Banjar yang harus terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Dengan kegiatan ini kita akan menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah kota untuk pelestarian, kemajuan hingga mendukung pariwisata daerah,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Banjarmasin, Ichrom Muftezar, mengapresiasi perhatian MUI Banjarmasin terhadap pelestarian seni dan budaya daerah.

Menurutnya, keberadaan seni budaya Islam memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari daya tarik wisata Kota Banjarmasin.

Ia mengatakan, Banjarmasin tidak hanya dikenal sebagai Kota Seribu Sungai, tetapi juga memiliki karakter sebagai kota yang religius dengan mayoritas masyarakatnya beragama Islam.

Selain itu, Banjarmasin memiliki sejarah panjang yang tidak terlepas dari perkembangan Kesultanan Banjar. Berdirinya Kesultanan Banjar sekitar 500 tahun lalu juga bertepatan dengan momentum berdirinya Kota Banjarmasin pada 24 September 1526.

“Karenanya masyarakat Banjar tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai adat istiadat dan budaya Islam,” ujarnya.

Ichrom menambahkan, berbagai warisan budaya, tradisi hingga kesenian bernuansa Islam masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Karena itu, diperlukan perhatian bersama agar keberadaannya tidak tergerus perkembangan zaman.

“Moga dengan perhatian MUI ini, seni budaya Islam khususnya di daerah kita terus lestari dengan terus ada regenerasi penggiatnya, maju mendukung sektor pariwisata daerah yang kini jadi andalan penggerak ekonomi daerah,” pungkasnya. (Hendra) 

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال